Pratinjau
Dalam cerita klasik karangan Lewis Carrol, Alice’s Adventures in Wonderland (versi 1994), Alice dan kucing Cheshire melakukan percakapan :Alice : Bisakah kamu beritahu aku harus pergi kea rah mana dari sini?
Chesire : Itu tergantung kamu mau ke arah mana.
Alice : Oh, aku tak peduli ke manapun juga.
Chesire : Kalau begitu tidak ada bedanya ke arah manapun kamu pergi.
Ikhtisar
Dalam beberapa cara, siswa bisa seperti Alice dan gerakan guru bisa seperti kucing Chesire. Untuk pengalaman belajar agar berarti dan produktif, siswa harus tahu ke mana dia akan pergi, dan pengarah gerak harus mampu mendampingi mereka dalam usaha mereka menempuh jalan yang dituju. Dalam bab 3 sampai 6 kita mengenal model konseptual penampilan seseorang. Model ini mengandung berbagai sistem yang melandasi proses informasi seseorang dan gerakan yang mereka lakukan. Mulai sekarang anda harus sangat memahami mekanisme akurasi gerak. Di bab 7 sampai 10 kita kemudian belajar proses belajar keterampilan gerak dan faktor-faktor yang memengaruhi kemahiran keterampilan seseorang. Di bab 7 kita membahas konsep pengalaman gerak dan beberapa faktor yang harus dipertimbangkan oleh praktisi gerak ketika mempersiapkan pendampingan terhadap pasiennya. Kemudian, di beberapa bab selanjutnya, kita membahas tekhnik instruksional yang bisa digunakan oleh dokter ketika mendampingi pasiennya ( bab 8), cara yang bisa dilakukan oleh dokter untuk membuat struktur latihan selama sesi belajar (bab 9), dan beberapa hal yang perlu diingat oleh dokter ketika memberikan feedback untuk pasien (bab 10).![]() |
Pic blogs.usm.maine.edublogs.usm.maine.edu |
Di bab ini kita membahas beberapa konsep yang mungkin para dokter ingin tahu untuk pertimbangan ketika menyiapkan pendampingan. Konsep-konsep ini termasuk penetapan tujuan (goal setting), transfer of learning (transfer hasil belajar), karakteristik pasien (learner characteristic), dan proses penilaian performa (performance assessment).
Mendefinisikan pengalaman belajar
Kemampuan untuk belajar adalah aspek biologis yang esensial. Kemampuan ini yang membuat seseorang dapat menyesuaikan hal-hal tertentu di lingkungan mereka dan mendapatkan keuntungan dari pengalaman mereka. Untuk manusia, proses belajar adalah hal yang krusial. Bayangkan kesulitan yang mungkin akan dialami oleh seseorang jika mereka hanya mengandalkan bakat yang dimilikinya sejak lahir untuk berjuang menghadapi segala masalah dalam hidup. Jika begitu kasusnya, mungkin orang-orang akan menjadi ; tidak mampu bicara, berjalan, menulis, atau membaca, sedikit yang berpartisipasi dalam olahraga yang membutuhkan keterampilan tinggi, melakukan sesuatu yang berkaitan dengan seni, atau bahkan kegiatan sehari-hari.Banyak faktor yang memberikan kontribusi terhadap kemampuan seseorang dalam aktivitas yang membutuhkan keahlian tinggi. Ketika seorang anak mulai dewasa, kemampuan performa mereka meningkat. Sama halnya, ketika seseorang menjadi lebih kuat atau mengalami peningkatan daya tahan kardivaskular, mereka menjadi mampu melakukan aktivitas tertentu secara ebih efektif. Namun, kedewasaan dan tingkat kebugaran tidak selalu berkaitan dengan tingkat keterampilan. Faktor utama yang secara konsisten berkaitan dengan tingkat keterampilan adalah sesuatu yang nampak sebagai hasil langsung dari latihan – itulah pengalaman bealajar (learning experiences).
Dalam beberapa kasus, proses belajar pada manusia sering terjadi hampir berkelanjutan, karena setiap hal yang dilakukan oleh seseorang saat ini memunculkan pengetahuan atau kemampuan yang memengaruhi bagaimana mereka akan melakukan sesuatu di masa depan. Di bab 1 kita telah mendefinisikan apa maksud belajar gerak, yaitu perubahan dalam proses internal yang menentukan kemampuan seseorang untuk menghasilkan tugas gerak. Lebih khususnya, kita membatasi pandangan kita tentang belajar ketreampilan tergantung situasi yang membuat seseorang mampu melakukan sesuatu untuk meningkatkan performa mereka dalam gerakan atau aksi tertentu, dan kita mengartikan situasi tersebut sebagai pengalaman belajar (learning experiences) atau sebagian orang ada yang menyebutnya latihan yang disengaja (deliberate practice). Kita menekankan bahwa pengalaman belajar dapat terjadi di berbagai tempat, melibatkan seseorang atau sekelompok orang. Rata-rata, seorang instruktur, terapis, atau pelatih hadir untuk membimbing pengalaman belajar dan menilai proses yang dialami oleh pasien atau siswanya.
Salah satu permasalahan yang perlu dipertimbangkan oleh dokter sebelum mendampingi pasiennya adalah tujuan dari pengalaman belajarnya. Penting bagi dokter untuk selalu ingat bahwa pengalaman tersebut adalah milik pasien. Setiap pasiennya menginginkan sebuah situasi baru untuk belajar keterampilan dengan beberapa gagasan tentang apa yang dia ingin selesaikan. Kita berpandangan bahwa dokter harus membuat konsep pengalaman belajar sebagai interaksi antara instruktur dan siswanya dan konsep ini memfokuskan pada keberhasilan siswa dalam mencapai tujuannya. Dua konsep yang sangat membantu bagi para dokter ketika menyiapkan proses pendampingan adalah penetapan tujuan (goal setting) dan transfer hasil belajar (transfer of learning).
Dilanjut ke pos selanjutnya tentang Goal Setting. *tunggu ya.
Terjemahan bebas Motor Learning and Performance.